Minggu, 27 April 2014
‘’Kartini Berdarah’’, siapa sebenarnya
sosok Kartini ??
Oleh:
Eki Yudasril
Bermacam
cara yang dilakukan masyarakat Indonesia dalam memperingati hari kartini yang
jatuh pada 21 April khususnya para wanita, mulai dari lomba kebaya Kartini,
nyanyi dan lain sebagainya, tidak mau ketingalan dalam memperingati hari
kartini Mahasiswa Institut Seni Indonesia Padangpanjang khusus nya jurusan
Teater membuat sebuah pertunjukan teater yang berjudul Kartini Bedarah dan
naskah ini digarap oleh Mahasiswa semester 2 jurusan seni teater mereka
dipercaya membuat suatu pertunjukan untuk memperingati hari Kartini.
Naskah
Kartini
Berdarah ini di sutradarai oleh Maya yang juga
Mahasiswa jurusan teater, dengan beberapa aktor diantara nya : Marsya, Yulia
Astuti , Riris Dawati, Lili Angraini, Cindi, Novita, Bayu, Rizky, dan Wulan, Setelah
3 bulan melakukan proses latihan tentulah tidak semudah yang di bayangkan
mengingat mereka masih baru di jurusan Teater mesti banyak tahap-tahap yang
mereka lalui, keluhan tersebut di ungkapkan oleh Sutradara Maya kepada penulis
saat dilakukan wawancara lansung hal yang paling menonjol di sampaikan oleh
sutradara ialah sikap kurang menghargai antara sutradara dengan para aktor
mengingat mereka satu angkatan 2013, namun hal ini hanya berjalan selama 2
bulan dan 1 bulan menjelang pementasan mereka akhirnya sadar fungsi dan tugas
masing-masing dari mereka, kemudian kendala dari ide garapan tersebut saat
Sutradara memberikan ide para aktor lain juga memberikan ide-ide hal ini
membuat Sutradara menjadi bingung tidak mau di cap sebagai seorang Sutradara
yang diktator Maya mencari solusi sekian banyak ide dari para aktor , saat
istirahat latihan waktu tersebut ia gunakan untuk berdiskusi bersama para aktor
dan memilih ide-ide yang terbaik.
Setelah
melakukan proses latihan selama kurang lebih 3 bulan akhirnya pada 21 April
2014 malamnya Naskah Kartini Berdarah yang di sutradarai
oleh Maya akhirnya melakukan pementasan di gedung Teater Arena Institut Seni
Indonesia Padangpanjang, panggung di bagi menjadi 2 setting, sebelah kanan
penonton di ubah menjadi kamar tidur disana terdapat meja belar, cermin yang
besar dan tempat tidur sederhana serta begitu banyak buku-buku dan photo RA
Kartini yang di gantung, dan disebelah kiri di sulap menjadi kelas belajar
disana.
Lampu
mulai terang terlihat sosok Kartika dikamar sedang bersiap kesekolah ia sedang
berbicara dengan Mama nya yang selalu sibuk dengan urusan kantor sihingga sosok
Kartika kurang mendapat kasih sayang dari orang tua nya apa lagi ia masih duduk
di bangku SMA, di sekolah Kartika mendapat perlakuan kasar dari taman-temannya
hal ini di sebabkan oleh penampilan kartika yang cupu dan jauh dari tren
perkembangan jaman sehingga ia sering menjadi bahan ejekan teman-temannya
sementara mereka berpenampilan modern serta fasion nable dan juga dengan
pergaulan bebas mereka, ini tentulah sangat bertolak belakang dari Kartika yang
berpenampilan apa adanya.
Menangis
sendiri di dalam kamar dengan memandang photo RA Kartini hal ini lah yang
sering ia lakukan apabila mendapat ejekan dari teman-temannya di sekolah,
Kartika yang begitu mengagumi sosok RA Kartini hingga suatu ketika saat ia
sedih ia beralusinasi ingin bertemu dengan RA Kartini, alusinasi Kartika
berjalan saat sosok kartini keluar dari cermin yang berada di dalam kamar nya
saat sosok Kartini muncul alangkah kagetnya Kartika tak lama kemudian ia
langsung memeluk Kartini dan menceritakan semua keluh kesal yang terjadi dalam
hidup nya baik dalam keluarga maupun lingkungan sekolah, ia menceritakan sosok
perempuan pada saat sekarang ini yang terbawa oleh arus medernisasi
perkembangan zaman dari segi pergaulan, akhlak serta tata cara berpakaian
sungguh sangat jauh berbeda dari harapan Kartini.
Dalam
hal ini Sutradara menghadirkan sosok misterius dengan busana serba hitam dan
memegang sebuah pisau yang hadir dalam kelas, satu persatu teman-teman yang
selalu menindas kartika mati terbunuh oleh sesosok misterius itu, kematian
teman-teman Kartika tersebut yang di anggap tidak wajar tentulah menjadi tanda
tanya besar bagi Kartika dan ia melontarkan pertanyaan tersebut kepada Kartini
siapa sebenarnya pelaku di balik semua ini dan Kartini menjawab mereka memang
pantas mendapatkan nya dan itulah ganjaran bagi seorang wanita yang terlalu
larut dengan perkembangan zaman sehingga dia lupa dengan kodrat nya sebagai
perempuan yang baik dan benar menjunjung tinggi nilai serta norma-norma wanita
Indonesia.
Beberapa
adegan sempat membuat penonton terkejut dan memiliki pandangan yang berbeda
tentang sosok Kartini pada saat Kartini datang menemui Kartika di kamarnya dan diwaktu
Kartini merasa capek hingga ia bebaring di tempat tidur Kartika, Kartika
menemukan sebuah pisau bedarah dan sehelai kain hitam hal demikian tentulah
menjadi tanda tanya besar dalam pikiran Kartika orang yang selama ini menjadi
panutan dan inpirasi, sekarang hadir dengan membawa pisau yang berlumuran darah
dan sebuah kain hitam, siapa sebenarnya sosok dari Kartini ? pertanyaan
tersebut ialah menjadi sebuah pertanyaan besar oleh penonton yang menyaksikan
pertunjukan Kartini Berdarah. Hal ini tentulah membuat karakter tokoh Kartini
menjadi ambigu dimata penonton padahal dalam keseharian kita mengenal sosok
dari Kartini yang begitu santun, sapan, pintar serta menjunjung tinggi nilai
dan norma ketimuran.
Sutradara
Maya menghadirkan adegan pembunuhan yang dilakulan oleh RA Kartini dengan
berpendapat karena melihat perkembangan jaman pada saat sekarang ini yang
semakin hari semakin maju dan dengan datang nya arus modernisasi manusia
khususnya perempuan sering larut dan terbuai dengan arus tersebut, sehingga mereka
lupa dengan norma-norma serta nilai-nilai yang di pegang erat oleh wanita
timur, seperti teman-teman kartika yang terkenal dengan pergaulan bebas dan
suka kasar juga tata cara berpakaian mereka yang begitu tidak sesuai untuk kaum
wanita Indonesia, adegan pembunuhan yang dilakukan di atas panggung saat
pertuntukan tersebut tentulah bukan pembunuhan yang kita kenal dalam keseharian
tetapi adegan tersebut sebagai simbol bahwa manusia pada saat sekarang ini
susah untuk membuka mata hatinya untuk menerima kebenaran hati mereka begitu
keras bagaikan batu.
Adegan
pembunuhan tersebut bermaksud mengubah nilai-nilai serta norma yang tidak
sesuai pada cerminan perilaku wanita Indonesia, disini sutradara tidak
mempermasalahkan perkembangan jaman dan arus modernisasi yang masuk namun ini
tergantung terhadap individu tersebut bagaimana menangapai serta memilah
perubahan tersebut karena tidak semua arus modernisasi yang masuk memberikan
dampak positif terhadap wanita Indonesia, penyadaran dan motivasi positif untuk
memberi rohani penonton. Inilah yang harus di pertahankan dalam sebuah
pementasan teater, sehingga teater tidak disamakan dengan hiburan kebanyakan.
Pada
adegan terakhir saat Kartika bunuh diri menusuk pisau ke perutnya suasa pun
merubah menjadi duka serta isak tangis pecah dari Mama Kartika, selang waktu 3
menit ternyata di sekaliling penonton telah berdiri orang-orang memegang lilin
dan berjalan ke atas panggung sambil menyanyikan lagu Ibu Kartini suasana
semakin lengkap dengan adanya pembacaan Puisi hingga membuat penonton larut
dalam pertunjukan tersebut.
Selasa, 19 November 2013
Bentuk-benmtuk Teater Rakyat
TEATER
KRATON
Teater
kraton yaitu Teater yang hidup dan tumbuh berkembang di lingkungan kraton dan
sekitar nya,Penagaruh hindu-Budha sekitar tahun 400 mashi memberi dampak
dibidang kesenian, maka lahirlah para seniman Kraton dan rajapun memberi ijin
untuk menjadi penyair istana dan mereka dapat dikatakan juga bahwa karya seni
kraton merupakan puncak seni kerajaan yang paling baik dan mulia.
Teater tradisional kraton, atau
dapat juga disebut teater klasik, berpokok pada penyuguhan cerita di depan para
sejumlah penonton oleh para pemain musuk dengan memakai unsur-unsur tari, musik
dan juga tutur.
1. JENIS-JENIS TEATER KRATON
1.
Wayang Boneka
Wayang boneka yang mengunakan boneka tiga
dimensi atau dua dimensi (wayang kulit),
menurut Crawfurt jawa adalah penemu drama rumpun bangsa-bangsa polinesia dan
poesen mengatakan bahwa wayang muncul di jawa atas bimbingan kebudayaan India.,
Brendes dengas tegas berpendapat bahwa wayang adalah asli penemuan Indonesia.
Teater wayang, baik dalam lingkungan
Kraton maupun bangsawan dan rakyat dan telah begitu dengan kehidupan mereka
sehingga setiap istana, rumah bangsawan, dan rumah rakyat yang bercukupan akan
membangun rumah mereka untuk kebutuhan wayang. Ceritanya pun beragam seperti
Mahabrata, Ramayana, panji, cerita amir hamzah.
2.
Wayang Orang
Pada
awal abad 10m, tepatnya tahun 930 menurut prasasti Wima lasrama, wayang wong
dinamai wayang orang berdasarkan kata-kata ‘’ Igel’’(menari) dan hatapukan
(topeng) kemudian pada abad ke 18 menjadi tradisi wayang orang di istana kraton
dan
Jawa
·
Teater tutur kentrung
Kentrung adalah bentuk teater rakyat yang
berupa cerita yang disampaikan secara lisan di depan sejumlah penonton oleh
dalang kentrung. Kasana ceritanya diambil dari agama islam seperti lahirnya
nabi musa, nabi Yusuf atau legenda rakyat seperti jaka tarub..
·
Dalang Jemblung
Bersumber dari partunjukan wayang kulit
biasa mengunakan pocapan atau dialog dan dilakukan dengan suara mulut
(vokal).ss
·
Ubrug
Terdapat dibanten, memakai bahasa campuran
sunda, jawa, indonesia dan lampung, tempat pertunjukan Ubrug biasanya dihalaman
rumah atau dilapangan dengan mengunakan penereng obor, lakon populer dari lakon
ubrug adalah sijambung, sipitung, sakam, dalem boncel, jejaka pecak
·
Longser
Terdapat diwilayah parahayangan (subang,
bandung, dan sekitarnya) pada dasar nya dan parbedaannya terdapat pada jenis
tarian dan masuknya pasinden, dan pada teater longser dimasukan pula tari
pencak silat dan ketuk tilu.
·
Sintren
Terdapat di daerah cirebon teater ini masih
menunjukan sifat-sifat magisnya dan dipimpin oleh seorang dukun dengan memakai
sejumlah sesajian.
·
Ronggeng Gunung
Diadakan pada malam hari mulai pukul 08.00
menjelang pagi, tontonan ini berkembang diwilayah pantai kabupaten ciamis
selatan keistimewaan bentuk teater ini adalah lagu-lagu dan lirik yang berbau
kuno.
·
Srandul
Diciptakan oleh Yudanegara III pada abad
19, srandul memainkan cerita-carita menak (amir hamzah) dengan iringan musik
bende, terbang, hiburan, dan kemudian dibawah mengamen oleh rombongan srandul
lakon yang dikenal diantaranya: rebutan pedang kangkam, ndulung mas, jati
kerna.
·
Ketoprak
Berkembang di jawa tengah khusus nya di
yogyakarta pada tahun 1887, Ki Wisangkoro membentuk rombongan ketobrak pertama
yang dinamai nya Wreksotomo dan para pemain semuanya pria, cerita yang
dimainkan diantaranya Abdul semara supi, Damar wulan, jaka bodo, panji asmara
bangun, lara mendut, sita jalaka.
Sumatra barat
·
Randai
Randai merupakan perkembangan dari teater tutur kaba, ada
empat unsur esensial yang ada dalam randai yaitu kaba yang dimainkan, gurindam
yang berupa penceritaan, legaran atau gerak dan dialog antar toko juga dengan
iringan dendang, para pemain terdiri dari 6 sampai 30 orang tergantung dari
kebutuhan cerita tersebut lakon-lakon yang dimainkan diantaranya: anggun nan
tongga, rambun pamenan, magek mamandian, gadih rantin.
·
Tupai janjang
Tupai janjang yaitu sebuah teater tutur
yang berasal dari kec, palambaian libuk basuang, teater ini menceritakan
tentang sepasang suami istri yang tidak di karuniai anak dan pada suatu hari ia
memohon kalaupun ia diberi anak yang menyerupai seekor tupai juga tidak
apa-apa, dan doa nyapun terkabul dan ia mendapatkan seorang anak yang
menyerupai tupai.
·
Sijobang
Teater yang berasal dari
payakumbuh, dan dimainkan mengunakan korek api dan ceritanya pun beranekaragam
sesuai dengan para pemain.
BeberapaTeater tradisional yang ada di Indonesia
1. Mak
Yong
Makyong adalah seni teater tradisional
masyarakat Melayu
yang
sampai sekarang masih digemari dan sering diberbagai cara, Dizaman dulu,
pertunjukan mak yong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi.Dramatari
mak yong dipertunjukkan di negara bagian Terengganu, Patani,
Kelantan, dan Kedah.Selain
itu, mak yong juga dipentaskan diKepulauan Riau
Indonesia.
Pertunjukan mak yong dibawakan kelompok penari dan pemusik profesional yang
menggabungkan berbagai unsur upacara keagamaan, sandiwara, tari, musik dengan
vocal atau instrumental, dan naskah yang sederhana.
Tokoh utama pria dan
wanita keduanya dibawakan oleh penari wanita. Tokoh-tokoh lain yang muncul
dalam cerita misalnya pelawak, dewa, jin, pegawai istana, dan binatang
Pertunjukan mak yong diiringi alatmusik sepertirebab,gendang,
dantetawak .
Istana kerajaan menjadi pelindung seni
tari mak yong sejak paruh kedua abad ke-19
sampai tahun1930-an.
Jika raja mendengar ada penari yang pandai apalagi cantik sedang bermain
di kampung-kampung, raja langsung memerintahkan penari tersebut
untuk menari di dalam lingkungan istana. Penari yang menari di istana akan
ditanggung semua akomodasi serta kebutuhan hidup, dan bahkan menerima pinjaman
tanah sawah milik rajauntuk dikerjakan.
Tahun 1926
hingga
tahun1950-an.
Selain itu, nilai estetika tradisional mak yong mulai luntur akibat
komersialiasi pertunjukan. Lama pertunjukan juga diperpendek dari pukul
8:30 malam hingga pukul 11:00 malam. Selesai pertunjukan mak yong langsung
diteruskan acara jogetbersama.
Penonton naik ke atas panggung untuk menari bersama penari mak yong. Alat
musik untuk mak yong jugadiganti dengan bioladan akordionuntuk
memainkan lagu untuk berjoget. Di pihak kelompok mak yong, nilai moral penari
juga mulai merosot. Tidak jarangterdengar kisah-kisah sumbang yang terjadi
antara kalangan penari dengan penontonselepas pertunjukan. Keluarga penari mak
yong juga menjadi berantakan, perceraianmenyebabkan anak-anak menjadi
terlantar. Penari mak yong malah banyak yang banggadengan jumlah suami yang
dimiliki. Publik mempertanyakan nilai moral di kalangan penari sehingga
citra penari mak yong makin merosot. Keadaan ini membuat citrakesenian mak yong
semakin hancur.Di akhir tahun1960-an,
kelompok tari mak yong sudah tidak bisa dijumpai lagi
Pada masa dahulu permainan ini
dipersembahkan sebaik sahaja selepas orang-orang kampong selesai menuai padi di
bendang. Drama tari Mak Yong ini merupakan sebagai suatu bentuk drama-tari
Melayu yang menggabungkan unsur-unsur ritual,lakonan dan tarian yang digayakan,
muzik vokal dan instrumental, lagu, ceritadan teks percakapan .
Ada dua versi yang berkenaan dengan
seni pertunjukan Mendu. Raja Hamzah Yunus mengatakan bahwa, Mendu kemungkinan besar berasal dari Asia Tenggara,
karena kesamaannya dengan seni pertunjukan yang disebut sebagai Mendura yang
berkembang di Siam, Yunan, Vietnam, dan Kamboja. Kesamaan ini terutama terletak
pada pementasannya yang dilakukan di areal tanah terbuka (tanah lapang).
Sedangkan versi lainnya (B.M. Syamsudin, 1987), mengatakan bahwa Mendu yang berkembang di daerah Bunguran
berasal dari Wayang Parsi yang berkembang di Pulau Penang sekitar tahun
1780-1880. Menurutnya pula, dahulu Mendu hanya dimainkan oleh kaum laki-laki.
Namun, memasuki tahun 70-an, ia tidak hanya milik laki-laki semata, tetapi
perempuan juga ikut ambil bagian dalam pementasan Mendu. Dari kedua versi itu,
tampaknya yang sangat beralasan adalah versi yang pertama, sedangkan versi yang
kedua lebih mendekati asal usul Mak Yong ketimbang Mendu. Lepas dari asal-usul
tersebut, yang jelas Mendu mulai dikenal oleh masyarakat Bunguran Barat sekitar
tahun 1870,
Sebuah kesenian yang tidak jauh berbeda
dengan Mak Yong dan Bangsawan (sama-sama menggabungkan unsur nyanyi, tari dan
pertunjukan ini menyebar ke berbagai tempat di daerah yang disebut sebagai
Pulau Tujuh, yakni: Bunguran Timur (Ranai dan Sepempang), Siantan (Terempa dan
Langi), dan Midai. Bahkan, di Tanjungpinang dewasa ini telah ada group Mendu
yang anggotanya orang-orang yang berasal dari Natuna. Walaupun demikian, jika
orang-orang mendengar istilah Mendu, maka yang terbayang di kepala orang yang
bersangkutan adalah Bunguran-Natuna. Dan, ini dapat dimengerti karena di
sanalah “pusat” kesenian yang disebut sebagai Mendu di Propinsi Kepulauan Riau.
Ada keunikan tersendiri jika
dibandingkan dengan seni pertunjukan lainnya (Mak Yong dan Bangsawan). Keunikan
itu adalah ceritera yang dimainkan tanpa naskah, sehingga para pemainnya harus
hafal benar alur ceriteranya. Dengan kata lain, harus hafal di luar kepala.
Dialog-dialognya disampaikan dengan tarian dan nyanyian yang diiringi dengan
musik yang khas, gabungan dari bunyi gong, gendang, beduk, biola, dan kaleng.
Sementara itu, lagu-lagu yang dinyanyikan adalah: Numu Satu, Lemak Lamun,
Lakau, Catuk, Air Mawar, Jalan Kunon, Ilang Wayat, Perang, Beremas, Ayuhai,
Tale Satu, Pucok Labu, Sengkawang, Nasib, Numu Satu Serawak, Setanggi, Burung
Putih, Wakang Pecah, Mas Merah, Indar dan Tarik Lembu. Sedangkan
tarian-tariannya adalah: Ladun, Jalan Runon, Air Mawar, Lemak Lamun, Lakau, dan
Baremas.
Ceritera yang dimainkan adalah Hikayat
Dewa Mendu yang diangkat dari ceritera rakyat masyarakat Bunguran-Natuna.
Ceritera itu terbagi dalam tujuh episode. Ke-7 episode tersebut adalah sebagai
berikut: Episode pertama, menceriterakan kehidupan di kayangan dan turunnya
Dewa Mendu dan Angkara Dewa ke dunia yang fana. Dalam episode ini juga
diceriterakan bagaimana Dewa Mendu bertemu dengan Siti Mahdewi hingga keduanya
bersepakat untuk membentuk sebuah keluarga (episode ini kadangkala dibagi
menjadi dua, yakni turunya Dewa Mendu dan Angkara Dewa, dan perkawinan Dewa
Mendu dengan Siti Mahdewi). Episode kedua, menceriterakan berpisahnya Dewa Mendu
dengan Siti Mahdewi akibat perbuatan jin jahat yang diutus oleh Maharaja
Laksemalik. Dalam episode ini juga diceriterakan bagaimana Sang Dewa Mendu
mencari isterinya tercinta. Episode ketiga, menceriterakan perjalanan Siti
Mahdewi, kelahiran anaknya yang kemudian diberi nama Kilan Cahaya, dan
perjumpaannya dengan Nenek Kabayan. Episode keempat, mengisahkan tentang
perjalanan Dewa Mendu yang kemudian sampai di sebuah kerajaan yang rajanya
bernama Bahailani. Masih dalam episode ini, diceriterakan juga bahwa Dewa Mendu
akhirnya menikah dengan puteri raja Bahailani. Episode kelima, menceriterakan
perjalanan Dewa Mendu ke sebuah kerajaan yang rajanya bernama Majusi. Dalam
episode ini juga diceriterakan tentang perkawinan Angkara Dewa dengan puteri
Raja Majusi. Episode keenam, menceriterakan perjalanan Dewa Mendu ke sebuah
kerajaan yang rajanya bernama Firmansyah. Konon, raja ini sedang mengalami
masalah karena puterinya dipinang oleh Raja Beruk yang tidak disukainya.
Tokoh-tokoh dalam seni pertunjukan
Mendu, disamping Dewa Mendu itu sendiri adalah: Angkara Dewa, Siti Mahdewi,
Maharaja Laksemalik, Kilan Cahaya, Nenek Kebayan, Raja Bahailani, Raja Majusi,
Raja Firmansyah, Raja Beruk, dan tokoh-tokoh pendukung lainnya yang jenaka
seperti Selamat Salabe dan Tuk Mugok. Kedua tokoh ini diibaratkan sebagai garam
dalam sebuah sayur. Tanpa mereka rasanya hambar. Oleh karena itu, mereka
menjadi bagian yang penting dan sangat disenangi oleh penonton.
3.
Mamanda (Kalimantan)
Beberapa
pemain berpakaian adat banjar. Berdiri di atas panggung yang didekorasi dengan
identitas banjar atau menggambarkan kehidupan kerajaan di jaman dulu. Mereka
berdialog dengan bahasa banjar kadang terdiam sambil bserpikir tentang sebuah
permasalahan yang mereka hadapi dengan lakon-lakon yang bermacam-macam.
Sesekali para penonton tertawa karena melihat lakon atau mendengar apa yang
para pemain lakukan. Mungkin itulah sekilas gambaran permainan di atas panggung
dalam cerita mamanda.
Banyaknya
kesenian yang berkembang di Kalimantan Selatan dari kesenian dari daerah luar
dan modern menjadi tantangan bagi mamanda sebagai teater tradisi local untuk
tetap bertahan disamping pesatnya kemajuan teknologi yang membawa saingan baru
terhadap mamanda seperti bioskop, sinetron televisi, film-film atau media
hiburan lainnya.
Sedikit
banyaknya pengaruh dari kebudayaan luar ikut mempengaruhi. Hal ini bisa menjadi
positif seperti berkembangnya penampilan mamanda yang bisa dipadukan dengan
penataan tempat, panggung, artistic, pencahayaan atau lighting sehingga tidak
selalu lagi dipentaskan dengan keterbatasan persiapan dan tentunya ini menjadi
lebih membantu perkembangannya.
Selain itu juga kemoderenan bisa menjadi
pengaruh yang mengakibatkan kuantitas atau banyaknya penampilan menjadi
menurun. Ini disebabkan banyaknya saingan dari hiburan bagi generasi yang
memecah perhatian terhadap seni budaya khususnya seni budaya lokal.
Naskah Imbauan Kampuang
IMBAUAN KAMPUANG
Karya :
Eki yudasril
Para pelaku:
Mandeh
Bujang Salamaik
Nilam Sari (Kekasih Bujang salamaik)
Intan Suri (adiak Bujang Salamaik )
Buyuang Tanduk (pemuda
kampong)
Dan dua orang bule
Etek kadai
Disebuah rumah kecil di ruangan tamu tampak sesosok lelaki
yang berdiri tegap yang barkainginan untuk pamit kepada mandenya untuk pergi
merantau ketanah Jawa
Mande :
Yuang, ondeh buyuang anak denai Bujang Salamaik, iyolah buyuang pikiah kan bana
alah di inuak manuangkan kareh hati nak pai marantau.
Bujang Salamaik : Ampunkan denai mande kanduang ampun
baribu kali ampun, bukannyo niat
denai nak maningaan mandeh, tapi dek nasib jo parasaian hiduik mambuek ambo nak
baniak pai marantau.
Mandeh : Ondeh nak kanduang badan mandeh, kok
baitu kato buyuang dangakan malah pituah mande ‘’ kok jadi buyuang ka karatau
babelok padi tapi banda kok jadi buyuang ka tanah rantau apo ka dayo mande
tingga’’ ciek lai pituah mande nak’’ kacang pinggek di tapi aia la mati mangko
babuah ingek-ingek buyuang balayiah lawiak sati rantau batuah.’’
Bujang Salamaik : Onde mandeh jan di pabimbang juo hati
denai ko, kok lai mujua tibo di ambo mande, tabangkiak juo batang tarandam
untuk mambangun kampuang kito ammbangun solok selatan
Mandeh : Apo sabab jo karano mangko nagari
buyuang tinggaan nyampang kok singkek umua mande, buyuang pulang di hari isuk
nan batapati tanah sirah nak, ciek lai pasan mande tolong jago rumah gadang nan
ado di nagari kito nak nagari saribu rumah gadang, jan sampai lapuak di giriang
kumbang jan sampai roboh dek urang lalu hanyo itu paninggalan niniak kito.
Buyuang Salamaik :Ambo ka rantau urang bukan bagadang hati dek
takadia jo untuang kito nan malang mandeh untuang kok lai barubah nasib hiduik
kito mangkonyo dicubo bakureh karantau urang
Mandeh :Jikok baitu kato buyuang kok ditara
indak tatarah di tabe malah kironyo, di tagah indak tatagah di lape juo malah
kiro nyo, mande indak bisa mambarian waang piti sakupang nan ka untuk balanjo
do nak tapi jo doa mande bekali
Bujang Salamaik : iyo mandeh,
doa mandeh sarato keluarga nan ambo harok an buliah nak tanang manjadi betah
dirantau urang
Mandeh :kok pandai bakain panjang labiah bak
dari kain saruang, kok pandai bainduak samang labiah bak dari induak kanduang
Intan Sari : uda.. indak ibo uda maninggaan ambo jo
mande di rumah, awak baduo badunsanak uda, kok pai uda katanah rantau ka sia
tampek mangadu uda.
Bujang Salamaik : Adiak kanduang Intan Sari usah lah adiak
baibo hati kini danga kan malah dek adiak mamintak sajo ka nan satu antah kok
lai mujuah tibo di uda, kini uda
titipkan mandeh sapanuh nyo bakeh adiak.
Intan Sari :jikok baitu kato uda pitaruh nan alah
uda lakek indak bisa ambo mailak lai
(sambil menanggis)
Buyuang Salamaik :jikok itu kato adiak sanang dalam hati sajuk
didalam kiro-kiro, mamde, Intan sari ambo barangkek hanyo lai
BABAK
2
Didalam perjalanan menuju
kapal yang mengangkut penumpang dari Sumatra ke tanah Jawa, tiba-tiba seorang
wanita cantik( kekasih nya) melepas kepergian Bujang Salamaik
Nilam Sari :Onde uda kanduang bujang salamaik, ambo
mandanga kaba uda kapai marantau ka tanah subarang, ambo nan ka tingga surang
ndak ado tampek untuk bagurau.
Buyuang Salamaik : Onde adiak sayang nilam sari uda pai ka
rantau subarang bukan nya bagadang hati diak tapi manyambuang hiduik nan
tabangkalai, untung-untung tajajak juo dek uda tanah tapi,
Nilam Sari :Tapi nan nilam takuikan uda, nyampang
kok rintang kabau dek tanduk nyo takuik
kok ado bungo lain yon an mandayo, mungkin uda alah lupo jo diri ambo iyo
suliak da baayam putiah indak sikuak alang manyembah.
Bujang Salamaik :usalah adiak bakato sarupo itu walaupun
banyak bungo nan maagah tapi Nilam surang nan di hati uda.
Nilam Sari :Jikok baitu kato uda sanang di dalam hati
sajuak di dalam kiro-kiro, kok lai sempat uda kirim juo lah sapucuk surek
ka ambo untuk paubek hati nan rindu
(menangis kecil)
Buyuang Salamaik :Jikok baitu malah dek adiak iko tando nan
uda tinggaan, iko sapu tanggan ka ganti diri ambo. Taratak gunuang pasiban,
kurinci babaju-baju kok taragak usah bapasan dalam mimpi kito batamu
(memberikan selendang kepada Nilam sari, dan ia pun pergi meninggalkan kampung
halaman nya)
BABAK
3
Disebuah lapau minuman dan
gorengan
Buyuang
Tanduk: Tek,
Tek ooo tek!
Etek Kadai
:Ondeh yuang takajuik etek aa, untuang etek indak sadang mangoriang cubo kalau iyo pasti etek
alah tagoriang lho tu, ado apo tu bantuk bunyi urang nan dak elok sa waang ma.
Buyuang Tanduk: Mintak kopi
sagale tek, lansuang jo pangocok nyo tek
Etek
Kadai :
Yang ka patang se alun babayia
lai, la mintak lho lik
Buyuang Tanduk :onde tek, tanang se la kalau ado rasaki
den bayia sado nyo, jo etek-etek bagai beko den bayiah
Etek Kadai : ee…e…e…
talompek bana muncuang waang ko ma, ka minum waang atau indak, aden lo nan
waang ago, belum tau kamu siapa saya ini, mamacit anduang saya disini dulu tu.
Tau kamu????
Buyuang
tanduk : Tahan emosi tek, wak bagarah se nyo tek,
tek, tek
Etek
Kadai : Ndak bisa, ambo ko tekanan darah randah
!!!
Buyuang Tanduk : mangko
nyo kalau lalok tu pakai kalambu bia ndak abi darah etek dek nyamuk.
Etek
Kadai : yo la…, ko kopi nyo jo goring
Buyuang Tanduk : ondeh
mande lamak nyo lai kopi etek ko, apo lai kawan nyo jo goriang nan angek-ngek
pulo tamba sero
Etek
Kadai : he..he… waang lai iyo bana tu? ciyus
Buyuang
Tanduk : iyo tek, mie apa?
Etek Kadai : hehehe… jadi na kama Buyuang Salamaik tu
paii marantau tu yuang?
Buyuang Tanduk :
kecek nyo ka tanah jawa tek, ibo bana hati ambo ko tek tingga ambo se surang di
rantau lai
Etek Kadai :
o..o. baitu muda-mudahan sukses juo la nyo handak nyo ndak yuang
Buyuang
Tanduk :
amin… hiks..hiks. ..hiks
Etek
Kadai : apui la salemo tu dulu jajok den calik
Buyuang Salamaik : permisi dulu tek ambo pulang banyak nan ka
di kakok a.(pergi meninggalkan etek kadai)
Dalam perjalanan pulang
kerumah Buyuang Tanduk bertemu dengan seorang bule yang binggung menanyakan
alamat
Bule :hollo
mr. can you help me?
Buyuang
Tanduk :
apo la bahaso pajo ko ( binggung), kama mister ko?
Bule :
what , can you speak Indonesia, apakah anda bisa berbahasa Indonesia?
Buyuang Tanduk :
jadi na saya coba sedikit dulu a, dari mana hendak kemana mister bule
ini
Bule : Saya sedang mencari
alamat rumah gadang or big house yang
berada di Abai sangir ini
Buyuang Tanduk : o..o..o. dekat rumah saya itu mister,
mari saya antar mister kesana.
Setelah beberapa tahun
Bujang Salamaik pergi merantau akhirnya ia pun kembali pulang dari tanah Jawa
ke kampong halaman nya, tenyata kampong yang ia tinggalkan dulu telah banyak
mengalami perubahan yang sangat pesat.
Babak 4
Bujang Salamaik : asssalam mualaikum Mande…mande. Oh
..mande ko ambo alah pulang dari rantau mandeh
Intan Sari :waalaikum sallam, ondeh uda alah pulang
uda kiro nyo dari tanah jawa( sambil bersedih)
Bujang Salamaik : ondeh adiak kanduang intan sari alah
gadang adiak kironyo, dimano mande kito intan sari kok dari tadi indak tampak?
Intan Sari : ondeh uda kanduang Bujang Salamaik
dangakan malah nan dek uda samanjak uda bajalan mande nan indak elok lai
panyakiak nyo makin hari makin batambah parah sampai nyao di japuik ilahi
Bujang Salamaik : apo mande alah tiado,….akan ambo
jalankan amanah mande mambangun kampuang kito iko.
Bujang Salamaik pun pergi
melihat makam mandeh nya.
Langganan:
Postingan (Atom)